Kisah persahabatan mantan terpidana terorisme dan penyintas ledakan bom

Kisah persahabatan mantan terpidana terorisme dan penyintas ledakan bom

Bagaimana seseorang yang pernah menjadi korban ledakan bom kemudian bersahabat dengan salah seorang mantan terpidana kasus terorisme?

Tubuh Febby Firmansyah Isran mengalami luka bakar hingga 45% akibat terkena ledakan bom di Hotel JW Marriot, Jakarta, 2003 lalu.

Dia harus menjalani beberapa operasi untuk memulihkan luka akibat serpihan bom.

Selama menjalani perawatan di rumah sakit selama empat bulan, Febby mengaku sempat merasa dendam dan sangat marah terhadap para pelaku tindakan terorisme itu.

“Tapi rupanya perasaan itu membuat kondisi saya semakin memburuk,“ kata Febby kepada wartawan di Bandung, Julia Alazka.

Sang calon istrilah yang kemudian meyakinkannya agar memaafkan para pelaku.

“Itu kemudian membuat proses penyembuhan saya itu langsung meningkat. Apa yang saya alami itu tidak ada apa-apanya ketika kita saling mencintai sesama,” kata Febby.

Organisasi penyintas

Setelah keluar dari rumah sakit, Febby pun aktif di organisasi sesama penyintas peristiwa ledakan bom.
Beberapa tahun kemudian, Febby diundang hadir dalam acara SAVE (Summit Against Violence Extremism) di Dublin, Republik Irlandia.

Ketika hadir dalam acara di Irlandia itu, luka di tubuh Febby belum benar-benar pulih, bekas lukanya masih tampak di wajah akibat ledakan bom.

Dalam acara itulah untuk pertama kalinya, Febby pertama kali bertemu dengan Ali Fauzi, adik kandung Amrozi ( yang sudah dieksekusi mati) dan Ali Imron terpidana penjara seumur hidup dalam kasus Bom Bali 2002.

Mengapa terpidana terorisme dilibatkan dalam program deradikalisasi?

Tangisan ibu membuat remaja Aceh urung gabung ISIS di Suriah
ISIS ‘melatih generasi baru’ teroris Indonesia
Penjara di Indonesia ‘dukung penyebaran terorisme’
Ali Fauzi pernah dipenjara dalam kasus terorisme dan pernah menjadi kepala instruktur perakitan bom di Jamaah Islamiyah wilayah Jawa Timur pada 1998 lalu.

Ali pun pernah ke Mindanao sampai kemudian ditangkap oleh Kepolisian Nasional Filipina dan dipulangkan ke Indonesia pada 2006.

Bom yang mengenai Febby, merupakan rakitan salah satu ‘murid’ Ali.

Febby mengaku pertemuan dengan Ali itu sempat membangkitkan rasa marah dan dendam.

“Tetapi kemudian saya ingat janji saya sendiri untuk memaafkan pelaku terror, akhirnya saya memberi maaf,” jelas Febby.

Ali mengaku sangat terpukul dan menangis ketika pertama kali bertemu Febby. Dia tak menduga dalam pertemuan itu justru bertemu dengan korban ledakan bom di Jakarta.

“Ketika saya menangis itu, Mas Febby dengan penuh ketulusan memaafkan saya. Di situ kemudian saya semakin punya kenyakinan apa yang dilakukan kawan-kawan sebuah kesalahan dan kekeliruan. Tugas kita adalah meluruskan mereka,” tutur Ali.

Sejak saat itu, persahabatan terjalin di antara mereka. Malah, keduanya kini bahu membahu menyuarakan perdamaian.

Ali sering diundang sebagai pembicara di acara berteman deradikalisasi. Sedangkan Febby aktif mengkampanyekan perdamaian melalui Asosiasi Korban Bom Terorisme Indonesia (ASKOBI).

Keduanya juga sering terlibat dalam kegiatan Peace Generation (PeaceGen), organisasi yang programnya mencetak generasi muda menjadi agen perdamaian.

Indonesia Muslim dan Amerika Kristen

Eric Lincoln, yang berasal dari Amerika dan beragama Kristen, telah tinggal selama 25 tahun di Indonesia. Dia bertemu dengan Irfan Amalee, seorang Muslim Indonesia yang merupakan murid kursus bahasa Inggrisnya.

Dalam proses belajar bahasa itu, mereka berdua justru sering membahas kegelisahan mereka terhadap kekerasan dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas, dan wajah Islam yang seringkali diidentikkan dengan kekerasan.

Keduanya, lalu mendirikan sebuah komunitas yang dinamai Peace Generation (PeaceGen) dengan tujuan menyatukan perbedaan untuk perdamaian.

“Ternyata perbedaan tidak harus membuat kita musuh tetapi bersatu,” ujar Eric.

Duet Irfan dan Eric juga mengusung pesan tersebut. Mereka ingin menunjukkan dan menjadi contoh bahwa perbedaan itu bisa menghasilkan perdamaian.

Berbekal pengalaman yang dimiliki masing-masing, Irfan sebagai penulis buku anak dan Eric konselor antikekerasan, antigeng, dan narkoba, mereka merancang modul 12 nilai perdamaian yang akan diajarkan kepada guru, pelajar, dan masyarakat umum.

Ke-12 nilai perdamaian itu adalah menerima diri, menghapus prasangka, keragaman etnis, keragaman agama, laki-laki dan perempuan, kaya miskin, kelompok eksklusif, merayakan keragaman, memahami konflik, menolak kekerasan, mengakui kesalahan, dan memaafkan.

Sejak 2007, PeaceGen telah melatih sebanyak 5.000 guru dan 25.000 anak-anak muda di hampir seluruh pulau di Indonesia.

Irfan dan Eric berharap para agen perdamaian yang sudah dilatih menyebarkan 12 nilai perdamaian itu ke teman, komunitas, dan lingkungannya, sehingga akan semakin banyak tercipta agen-agen perdamaian.

Target mereka ada 100.000 anak muda yang menjadi agen perdamaian sehingga mereka bisa melawan perekrutan teroris yang juga menyasar kelompok yang sama.

“Sasarannya (ajaran terorisme) anak muda, dan media sosial sekarang penyebarannya lebih masif,” kata Irfan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *